Orang bilang,
‘menunggu’ adalah pekerjaan yang paling membosankan dan ‘bermimpi’ adalah
pekerjaan yang paling menyenangkan. Maka ketika suatu siang aku terjebak dalam
rutinitas ‘menunggu’, tepatnya menunggu kesempatan untuk mengkonsultasikan
revisi skripsi di sebuah kursi tunggu di depan ruang dosen di kampus tercinta,
aku memutuskan untuk bermimpi. Dan pilihan mimpiku pun tidak sembarangan: Raja Ampat.
Sebuah tempat yang
terletak jauh di sisi timur negeriku. Sebuah tempat dengan dua patah nama yang
tak kalah eksotis dari pemandangan alamnya. Sebuah tempat yang diakui oleh
mereka yang telah pernah menginjakkan kaki di sana sebagai surga terakhir di
muka bumi, the last paradise on earth!
Perjalanan ke Raja Ampat biasanya ditempuh lewat Sorong, Papua Barat. Senyum tersungging ketika membayangkan diriku berdiri canggung di atas kapal yang berlayar dari kota Sorong dalam balutan jaket tebal dan sebuah backpack yang kusandang dengan gagahnya untuk menunjukkan diri sebagai petualang sejati. Begitu kapal memasuki pelabuhan kubayangkan hal pertama yang akan kutemui adalah sebuah papan nama berukiran klasik dengan sambutan ramah tertulis di atasnya “Selamat Datang di Raja Ampat”.
Perjalanan ke Raja Ampat biasanya ditempuh lewat Sorong, Papua Barat. Senyum tersungging ketika membayangkan diriku berdiri canggung di atas kapal yang berlayar dari kota Sorong dalam balutan jaket tebal dan sebuah backpack yang kusandang dengan gagahnya untuk menunjukkan diri sebagai petualang sejati. Begitu kapal memasuki pelabuhan kubayangkan hal pertama yang akan kutemui adalah sebuah papan nama berukiran klasik dengan sambutan ramah tertulis di atasnya “Selamat Datang di Raja Ampat”.
Gerbang masuk alam
eksotis ini terletak di Kota Waisai. Buat yang belum tahu nih, Kabupaten Raja
Ampat merupakan bagian dari Provinsi Papua Barat yang terdiri atas empat pulau
besar yaitu Pulau Waigeo, Batanta, Salawati and Misool, serta lebih dari 600
pulau kecil, dengan total luas area sekitar 4,6 juta ha2 dan panjang garis
pantai mencapai 753 km. Nah, kota Waisai yang aku impikan ini terletak di sisi
selatan dari Pulau Waigeo dan merupakan ibukota dari Kabupaten Raja Ampat.
Meskipun lumayan
panas(suhu rata-ratanya sekitar 27-300C), namun hal ini kuyakini tidak akan menjadi
masalah. Toh, seumur hidup aku tinggal di sebuah kota pesisir dengan cuaca yang
tak jauh berbeda. Apalagi, ketika melihat sambutan warga setempat yang begitu ramahnya. Berlokasi di jantung
segitiga terumbu karang (Coral Triangle), Raja Ampat menjadi kawasan
biodiversitas laut terkaya di dunia. Dalam sebuah kajian ekologis yang
dilakukan The Nature Conservancy dan Conservation International ditemukan bahwa
total terumbu karang di Raja Ampat mencapai lebih dari 540 spesies atau sekitar
75% dari keseluruhan spesies terumbu karang di dunia. Raja Ampat juga menjadi
rumah bagi lebih dari 700 spesies molluska dan 1400 spesies ikan karang. Tidak
heran bahwa selain menjadi tujuan wisata favorit para turis lokal dan
mancanegara, Raja Ampat juga menjadi arena penelitian para ilmuwan dunia.
Keindahan pantai bisa
ditemukan di hampir semua wilayah Kepulauan Raja Ampat. Dan belum ke pantai
namanya jika belum menyelam. Menurut info di antara para backpacker, kegiatan
menyelam di Raja Ampat selam sangat baik dilakukan antara bulan Oktober-April.
Di sana bakalan ada banyak tempat yang menyediakan tempat diving spot terbaik,
misalnya Raja Ampat Dive Lodge. Namun untuk kegiatan selam dan pemotretan bawah laut, hanya penyelam profesional berlisensi
yang diperkenankan. Bagi yang belum memiliki sertifikat nyelam, jangan khawatir. Anda masih dapat menikmati
keindahan terumbu karang dan ikan laut melalui kegiatan snorkeling.
![]() |
| Wuih, exclusive view nih!! (sumber: indonesia.travel) |
Selanjutnya perjalanan
bisa dilanjutkan ke berbagai kampung wisata yang ada di wilayah Raja Ampat,
dengan kebudayaan dan nilai pariwisatanya tersendiri. Perjalanan berikutnya
menggunakan speedboat selama 1,5 jam menuju Teluk Kabui. Di sana terdapat
sebuah gua yang konon dijadikan tempat persemayaman jenazah warga, sehingga
anda dapat menemui sekumpulan kerangka manusia di dalam gua. Seram sih, namun
selaku pengagum budaya kuno, aku tidak bisa menolak kesempatan mengunjungi
tempat yang satu ini. Dan yang juga tak boleh dilewatkan adalah Kepulauan
Wayag, tempat yang katanya merupakan jantung keindahan pariwisata Raja Ampat.
Meski harus menempuh perjalanan hingga berjam-jam untuk mencapainya, semua akan
terbayar dengan keindahan gugusan karst dan panorama bawah laut yang tiada
duanya.
Kekayaan alam Raja
Ampat tidak hanya tersembunyi di dalam lautannya, tetapi juga di daratannya.
Fauna yang ditemukan di hutan Raja Ampat begitu beragam dan seringkali jarang
ditemukan di tempat lain. Konservasi habitat alam liar di Raja Ampat dilindungi
secara resmi dalam empat nature reserves yang terletak d Waigeo Barat, Batanta
Barat, Salawati Utara, dan Misool Selatan.
Dari hasil penelitian
yang dilakukan di hutan Waigeo Barat, ada lebih dari 171 spesies burung dan 27
spesies mamalia, sedangkan penelitian serupa di Misool Selatan berhasil
menemukan 159 spesies burung. Beberapa di antara burung ini merupakan jenis
yang dilindungi karena keberadaannya sangat langka, seperti burung kakatua
putih (Cacatua galerita), pekakak hutan (Halcyon Macleayii), julang Irian
(Aceros Plicatus), nuri raja (Probosciger Aterrimus), nuri kepala merah-hitam
(Eclectus Roratus Lory), mambruk Viktoria (Goura Victoria), cendrawasih
(Paradisaea Sp.), and burung maleo (Maleo Magrocephalus).
Masyarakat Raja Ampat
juga mengenal berbagai bentuk kearifan lokal, terutama dalam hal cara
penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan tidak merusak laut. Satu di antaranya yang paling menarik adalah
Sasi. Tradisi Sasi merupakan sebuah aturan tidak tertulis masyarakat adat
berupa larangan untuk melakukan penangkapan hewan laut dalam waktu tertentu.
Dalam bahasa modern bisa dirumuskan dalam istilah konservasi. Biasanya
pelarangan penangkapan hewan laut itu bisa memakan waktu hingga 24 bulan. Setelah
itu barulah masyarakat diperbolehkan melakukan penangkapan ikan yang dilakukan
secara serempak.
![]() |
| Nih, tambahan foto buat yang masih ragu kalau Raja Ampat itu memang layak disebut The Last Paradise on Earth! (sumber: indonesia.travel) |
Di Kabupaten Raja Ampat
sendiri terdapat banyak wilayah adat, atau dikenal dengan istilah petuanan. Setiap petuanan terdiri dari beberapa kampung, dan berhak untuk menentukan sendiri seberapa lama Sasi diberlakukan.
Dengan menerapkan tradisi Sasi, populasi jenis ikan, kerang, udang, teripang
dan biota laut lainnya memiliki kesempatan berkembangbiak dengan baik sehingga
tetap terjaga kesinambungannya. Jika ada yang melanggar, akan dijatuhkan sanksi
oleh ketua adat. Biasanya sanksi yang dijatuhkan berupa sanksi sosial, misalnya
bekerja membangun jalan, bahkan di wilayah tertentu ada juga sanksi yang berupa
kutukan. Hii, ngeri!
Tentu saja kunjungan
ini nggak bakalan lengkap tanpa mencicipi budaya para penduduk lokalnya. Selain
mengunjungi berbagai keindahan alamnya, yang juga bakalan masuk daftar
kunjunganku juga adalah Sail Raja Ampat. Pentas tahunan ini diadakan secara
khusus oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia
bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Papua Barat dan Pemerintah Kabupaten Raja
Ampat. Di sini bakalan bisa menyaksikan langsung berbagai kebudayaan lokalnya,
di antaranya adalah Karnaval Laut, yaitu sajian kebudayaan lokal yang
menampilkan tari-tarian dan nyanyian daerah di atas perahu yang mengelilingi
pesisir pantai.
![]() |
| Festival Sail Raja Ampat (sumber: travel.kompas.com) |
Ini juga bakal menjadi kesempatan bagus untuk ngobrol sejenak dengan para warga setempat, menggali kisah-kisah sejarah Raja Ampat. Konon, nama Raja Ampat berasal dari cerita rakyat setempat, dimana dahulunya terdapat empat orang pangeran berasal dari telur yang ditemukan oleh seorang putri. Keempat pangeran inilah yang kemudian menjadi raja di masing-masing pulau besar Waigeo, Salawati, Misool, dan Batanta dan kemudian disebut sebagai Raja Ampat atau The Four Kings. Konon juga, nih, kehidupan masyarakat kuno Raja Ampat sudah bermula sejak 2000 tahun yang lalu, yang di antaranya diabadikan dalam lukisan batu yang dapat ditemui di gua-gua di Pulau Misool.
Sorenya, ketika
matahari hendak terbenam, aku akan beristirahat sejenak di Pantai Waiwo. Bayangkan,
sebuah pantai yang berada di balik hutan dan karang besar, dengan keindahan
sunset di latarnya. Tak jauh dari tempatku bersantai, suara musik klasik
kolaborasi Tifa dan seruling mengiringi tarian khas Papua yang dimainkan dengan
indahnya oleh para penduduk. Akhir yang sempurna untuk menutup perjalanan di
bumi seeksotis Raja Ampat, bukan?
![]() |
| Sunset di Raja Ampat (sumber: unearthingasia.com) |
Ah, derita mahasiswa
tingkat akhir.
Sumber data:
http://www.gorajaampat.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Raja_Ampat
http://travel.kompas.com/read/2014/08/24/164800927/Kabarkan.Indahnya.Raja.Ampat
http://www.g-priority.com/2013/04/01/
raja-ampat-ditengah-budaya-dan-kearifan-lokal








0 Komentar untuk "Wonderful Indonesia : Ketika Sang Mahasiswa Memimpikan Surga Raja Ampat"