Arun,
atau lengkapnya PT Arun NGL adalah nama anak perusahaan Pertamina yang mengolah
gas alam cair dan berlokasi di pantai utara Sumatera. Lalu mengapa namanya
sedemikian populer?
Karena di sekitar awal 90-an, Arun bukan hanya perusahaan penghasil gas alam cair nomor satu di Indonesia, tetapi juga salah satu yang terbesar di dunia. Tak heran jika saban hari, nama perusahaan yang diambil dari nama sebuah desa di Aceh Utara ini berseliweran di berbagai media bisnis nasional dan internasional.
Karena di sekitar awal 90-an, Arun bukan hanya perusahaan penghasil gas alam cair nomor satu di Indonesia, tetapi juga salah satu yang terbesar di dunia. Tak heran jika saban hari, nama perusahaan yang diambil dari nama sebuah desa di Aceh Utara ini berseliweran di berbagai media bisnis nasional dan internasional.
Sekarang?
Well, PT Arun tetap masih setia menghiasi halaman koran harian. Namun,
alih-alih membuat berita baru yang membanggakan, Arun justru lebih sering
muncul dengan berita negatif seputar sengketa pembebasan lahan yang seharusnya
sudah diselesaikan puluhan tahun yang lalu. Sementara ekspor gas alam cairnya
yang sempat menyentuh angka 224 kargo pada tahun 1994 kini menurun hingga hanya
24 kargo. Belum selesai masalah tersebut, muncul lagi isu baru yang juga
meresahkan publik, yaitu mengenai habisnya gas alam yang tersedia di ladang
Arun.
Pertanyaan
mengenai masa depan Arun sebenarnya telah diapungkan sejak lama, namun tak
pernah ditanggapi dengan serius. Baru dalam beberapa tahun terakhir muncul ide
untuk mengubah fungsi Arun yang semula pengolah gas alam cair menjadi terminal
penerima gas. Ini dinilai sebagai cara yang paling efektif untuk mempertahankan
posisi Arun sebagai katalisator perekonomian Aceh, khususnya di bidang industri.
Masalah
kemudian timbul karena pemerintah telah terlanjur menerbitkan Inpres No 1 tahun
2010 yang mengijinkan pendirian terminal gas apung di Belawan,
Suumater Utara. Mengingat fungsinya yang serupa dan jarak Arun-Belawan yang
begitu dekat-kurang dari 300 km, bisa dipastikan tak mungkin keduanya akan
beroperasi secara bersamaan. Jika terminal gas di Belawan jadi dibangun, maka Arun
bisa melupakan rencana alih fungsinya.
Apa
keuntungannya bagi perekonomian Aceh jika kilang Arun dialihfungsikan? Dengan
kata lain, apa akibat buruk jika pemerintah lebih memilih mendirikan terminal gas
apung baru di Belawan dan mengabaikan Arun?
Jawaban
pertama adalah akan terbengkalainya aset Arun yang bernilai total tak kurang
dari Rp6,3 triliun. Ini termasuk fasilitas-fasilitas mahal seperti tangki penyimpan
LNG, LPG, dan condensate. Peralatan seperti itu seharusnya masih dapat
dipergunakan untuk pengembangan model bisnis logistik berupa tempat penampungan
cadangan bahan bakar yang siap didistribusikan ke berbagai tempat, dalam hal
ini sebagai terminal penerimaan gas.
![]() |
| Aset PT Arun akan terbengkalai jika tidak dialihfungsikan. |
akan terguncang. Kita sudah melihat kematian pabrik KKA dan AAF, dan hal itu kemungkinan juga akan disusul oleh PIM jika nantinya Arun berhenti berproduksi. Semua perusahaan tersebut membutuhkan gas, baik sebagai bahan baku maupun untuk menggerakkan power system-nya. Selama ini kebutuhan itu disuplai oleh Arun.
Hal
lainnya yang harus dipertimbangkan berkaitan dengan masalah ketenagakerjaan. Dari
sudut pandang ekonomi, semakin banyak perusahaan yang beroperasi di suatu
daerah, semakin maju pula perekonomian daerah tersebut. Bertahannya Arun dan
PIM serta kembali beroperasinya PT KKA dan PT AAF akan berarti terbukanya lebih
banyak lapangan kerja, khususnya bagi angkatan kerja di Aceh. Hal ini penting
mengingat masih tingginya angka pengangguran di Aceh. Data terakhir dari BPS
Aceh hingga menjelang akhir 2011 menunjukkan 149 ribu orang penduduk yang
termasuk angkatan kerja tidak memiliki pekerjaan, alias menganggur.
Fakta ini harusnya tak perlu terjadi mengingat selama ini Aceh didengung-dengungkan sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam. Kebangkitan perusahaan-perusahaan besar -dengan membuka lapangan kerja yang lebih besar bagi putra daerah- akan sanggup mengurangi angka pengangguran tersebut. Dan sebagai sentra ekonomi berbasis industri, Arun adalah kunci utama kebangkitan tersebut.
Note : Tulisan ini telah dipublikasikan pada awal tahun 2012


0 Komentar untuk "Ketika Arun (Harus) Berganti Kulit"